BLOCKCHAIN IN AGRICULTURE

 

BLOCKCHAIN 


Pengertian Blockchain


Blockchain adalah teknologi yang digunakan sebagai sistem penyimpanan atau bank
data secara digital yang terhubung dengan kriptografi. Penggunaannya tidak terlepas dari
Bitcoin dan Cryptocurrency lainnya. Meski begitu, terdapat banyak sektor lainnya yang bisa
memanfaatkan perkembangan teknologi dari Blockchain ini.

Block yang memiliki arti kelompok dan chain yang artinya rantai. Pengertian dari
penamaan teknologi ini mencerminkan bagaimana cara kerja blockchain. Dimana, teknologi
tersebut memanfaatkan resource komputer untuk menciptakan blok-blok yang terhubung
(chain).

Blok-blok yang saling terhubung nantinya digunakan untuk mengeksekusi sebuah
transaksi. Teknologi ini memang cukup menarik karena sifatnya yang tidak terpusat.
Blockchain mampu berjalan sendiri menggunakan algoritma komputer tanpa ada sistem
tertentu yang mengaturnya.


Sejarah Blockchain


Blockchain saat ini selalu diasosiasikan dengan crypto, walau sebenernya teknologi ini udah dikembangkan jauh sebelum Bitcoin ada. Adalah dua orang ilmuwan yang bernama Stuart Haber dan Scott Stornetta yang menciptakan konsep blockchain pada awal tahun 1990-an.

Teknologi ini kemudian menjadi fondasi Bitcoin yang diciptakan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009. Nakamoto membuat konsep blockchain Bitcoin pertama kali pada tahun 2008 dan merilis whitepaper pertama tentang teknologi ini pada tahun 2009. Dalam whitepaper tersebut, Nakamoto mengutip tiga hasil riset kriptografer Haber dan Stornetta, dan menjelaskan tentang bagaimana teknologi ini dapat meningkatkan keamanan pengiriman mata uang digital melalui sistem desentralisasinya.

Perbedaan Blockchain dan Cryptocurrency


Cryptocurrency merupakan sistem mata uang digital yang diamankan menggunakan kriptografi. Sehingga, mata uang tersebut tidak dapat dipalsukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Aset-aset crypto ini menggunakan teknologi yang disebut dengan blockchain. Jadi, blockchain merupakan database yang tidak bisa diganti atau diubah. Intinya, blockchain merupakan teknologi yang digunakan untuk menyimpan data digital yang terhubung dengan kriptografi.

Keduanya ini memang berbeda, namun sama-sama berkaitan. Di mana crypto sebagai mata uang digital dan blockchain sebagai teknologinya serta penyimpanan data digital yang berkaitan dengan transaksi cryptocurrency.


Jenis - Jenis Blockchain


Terdapat dua jenis teknologi blockchain, yaitu :

1. Blockchain Publik

Blockchain ini terbuka untuk setiap orang, dimana setiap orang menjadi node,
bisa, menulis, dan dapat melakukan update pada blockchain dengan membuat
alamat pribadi. Dengan mengubah kunci publik ini akan memungkinkan siapa
saja yang memiliki koneksi internet dan perangkat komputasi yang bisa
menjalankan perangkat lunak blockchain.

2. Blockchain Pribadi

Dalam blockchain pribadi, jika ada yang ingin menjadi node mereka harus
mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemilik blockchain. Blockchain pribadi
ini hanya bisa diakses dan diedit oleh anggota asli.


Kelebihan Penggunaan Blockchain


1. Sistem Lebih Transparan dan Aman

Teknologi blockchain bisa menyimpan riwayat transaksi selengkap mungkin, sehingga lebih aman dan transparan. Jadi, saat proses transaksi berlangsung, secara otomatis data akan menjadi public access atau dapat dilihat oleh semua pihak tanpa melalui proses login. Jadi, informasi berupa data atau uang yang Anda simpan tidak dapat digunakan oleh perusahaan keuangan tanpa sepengetahuan Anda sebagai pelanggan. Selain itu, keamanannya juga sudah terenkripsi kriptografi.

2. Proteksi Data Lebih Baik

Sistem database pada blockchain bersifat append only. Artinya, Anda hanya bisa menambahkan, namun tidak ada fasilitas untuk edit maupun hapus data. Ini akan membuat hacker kesulitan untuk beraksi.


3. Proses Audit Jadi Lebih Baik

Blockhain mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam audit data. Sebab, setiap orang bisa melakukan pelacakan data transaksi, sehingga lebih mudah untuk mengetahui jejak audit dari suatu aset. Tentu saja ini berguna untuk meminimalisir terjadinya penggelapan dana.


4. Mencegah Adanya Biaya Transaksi Tambahan

Transparansi dan keamanan teknologi blockchain membuat middleman atau calo menjadi tidak relevan karena sistemnya yang bersifat immutable (tidak dapat diedit dan dihapus). Dengan begitu, tidak akan timbul biaya tambahan saat bertransaksi.


Kekurangan Penggunaan Blockchain


1. Biaya Mahal

Meski membantu pengguna untuk menghilangkan transaksi tanpa perantara, sayangnya teknologi blockchain yang masih tergolong baru ini biaya pembuatannya sangat mahal. Ini terjadi karena tenaga ahli yang bekerja pada sistem blockchain masih terbatas.


2. Tantangan Besar Ketika Kunci Pribadi Hilang

Teknologi blockchain menggunakan kunci publik kriptografi (cryptography public key) untuk pengguna, sebagai kepemilikan dari unit data hingga mata uang digital. Setiap akun blockchain tentu akan memiliki 2 jenis kunci berbeda. Kunci publik yang bisa dibagikan secara bebas dan kunci pribadi atau rahasia. Kunci pribadi akan berguna saat Anda mengakses dana dan data pribadi. Jadi, saat Anda kehilangan kunci pribadi, uang atau data yang tersimpan bisa hilang. Tetapi di saat yang sama, Anda akan kesulitan karena tidak bisa memiliki otoritas lagi.


3. Butuh Penyimpanan yang Besar

Sebagai sebuah buku kas digital, tentu isi data dalam blockchain akan terus meningkat. Contoh, blockchain bitcoin saja membutuhkan penyimpanan kurang lebih 200GB. Kebutuhan akan kapasitas penyimpanan ini akan terus bertambah dari waktu ke waktu, sehingga memperbesar risiko transfer data yang lambat, bahkan kehilangan data.

4. Kurang Efisien

Konfirmasi data dalam jaringan blockchain ternyata membutuhkan kesepakatan antar pihak yang masuk pada jaringan tersebut. Adakalanya proses ini membutuhkan waktu lebih lama jika Anda ingin bergabung dalam jaringan.



Cara Kerja dari Blockchain


fungsi utama dibentuknya blockchain yaitu difungsikan sebagai bentuk yang memberi izin kepada informasi digital untuk dapat tercatat serta terdistribusi atau disebarkan tanpa memiliki akses untuk dapat bisa diubah, dihancurkan, dilenyapkan, dan dihapus.

Hal tersebut membuat blockchain mendapatkan julukan sebagai DLT atau kependekan dari Distributed Ledger Technology. Sistem kerja dari blockchain adalah menggunakan pembelian bitcoin. Sistem dari blockchain terdiri atas 2 jenis record, yaitu transaksi dan blok. Secara sederhana, berikut cara kerjanya:

Blockchain mulai bekerja ketika blok menyimpan sebuah data baru pada rantai (chain). 
Setiap blok berisi hash kriptografi yang akan membentuk jaringan. 
Hash kriptografi ini bertugas mengambil data dari blok asal, kemudian mengubahnya menjadi compact string. 
String akan menjadi pendeteksi apabila terjadi peretasan.



Berikut sistem kerja dari blockchain :

Diawali dari seseorang yang membeli sejumlah bitcoin.
Setelahnya akan terjadi proses transaksi, proses transaksi tersebut akan dipindahkan melalui jaringan komputer yang dipasang menggunakan metode peer to peer yang tentunya tersebar ke seluruh dunia.
Setelahnya, Jaringan komputer tadi lalu menuntaskan sebuah persamaan yg berfungsi buat mengkonfirmasi validitas berasal transaksi.
Sesudahnya transaksi tersebut dikonfirmasi menjadi transaksi yg sah, proses selanjutnya adalah transaksi tersebut akan dikelompokkan bersama untuk sebagai blok.
Kumpulan blok ini yang selanjutnya akan disatukan menjadi satu dan akan direkap untuk dijadikan sebuah catatan yang berisi riwayat panjang mengenai transaksi tersebut yang bersifat permanen yang jells tidak bisa diubah.
Setelahnya, transaksi selesai.

Karakteristik dari Blockchain


Terdesentralisasi: Karakteristik utama dari jaringan blockchain adalah sistem terdesentralisasi kompleks yang bisa memfasilitasi penyimpanan data dan perpindahan aset.
Open-source: Salah satu prinsip utama dari sistem terdesentralisasi adalah sifatnya yang open-source atau terbuka dan bisa digunakan siapa saja. Teknologi blockchain dapat dimodifikasi dan digunakan siapa pun. Ini lah kenapa sekarang kita melihat berbagai variasi blockchain yang menggunakan beragam sistem verifikasi.
Tahan terhadap perubahan data: Data pada blok yang sudah diverifikasi dan masuk ke rantai blockchain bersifat immutable atau tidak bisa diubah. Hal ini membuat jaringan blockchain sangat tahan terhadap manipulasi data.
Dikunci menggunakan kriptografi: Terakhir, karakteristik utama dari semua jaringan blockchain adalah penggunaan kriptografi untuk keamanan. Kunci kriptografi ini adalah teknologi enkripsi kompleks yang sangat aman.


Pemanfaatan Blockchain


Pemanfaatan teknologi blockchain dapat dimanfaatkan dalam semua bidang, terlebih bidang keuangan. Hal ini dikarenakan blockchain selalu diibaratkan sebagai buku kas yang berwujud digital yang hanya memiliki kelebihan dapat diakses dan dikunjungi oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun dengan cara yang sangat mudah tanpa harus meminta izin persetujuan ke lembaga keuangan seperti bank.

Adanya blockchain dapat lebih memudahkan dan memberikan rasa aman dikarenakan asas transparansi yang sudah kami jelaskan. Dimana asas tersebut memiliki kegunaan untuk meminimalisir terjadinya penggelapan dana oleh oknum-oknum tertentu.

Blockchain juga dapat dimanfaatkan dalam bidang finansial dengan bukti pada tahun 2018, McKinsey pernah membuat tabel peluang khusus blockchain yang dapat memberikan gambaran mengenai peluang dari blockchain untuk berbagai bidang lain, seperti bidang media, property, telekomunikasi, medis, pertanian, dan masih banyak lagi.



Penggunaan Teknologi Blockchain


Penggunaan teknologi blockchain pada dasarnya tidak terbatas. Teknologi ini pada dasarnya adalah fondasi penyimpanan data yang bisa digunakan untuk industri mana pun. Saat ini kita sudah melihat penerapan teknologi blockchain di luar industri finansial seperti identitas digital, industri data, musik, rantai pasokan, dan sektor kesehatan.

 Meskipun begitu, perkembangan dalam industri-industri tersebut masih terbatas.
Salah satu perkembangan pesat penggunaan teknologi blockchain adalah CBDCs atau central bank digital currencies. CBDCs adalah mata uang fiat yang dibangun di atas jaringan blockchain namun dikontrol oleh pemerintah yang membuatnya. Negara seperti Indonesia dan AS sedang dalam proses merencanakan dan membuat CBDCs.

Implementasi teknologi blockchain dalam berbagai industri lain akan terus berkembang seiring dengan peningkatan popularitas dan adopsi cryptocurrency.


Blockchain  dalam  Pertanian


Blockchain di pertanian memungkinkan pelacakan detail tanaman, meningkatkan transparansi rantai pasokan, dan mengatasi operasi ilegal. Ini juga membantu identifikasi kontaminasi dan mendukung tujuan keberlanjutan pangan, memungkinkan konsumen membuat keputusan yang lebih bijak dalam pembelian dan memberi penghargaan pada praktik pertanian yang baik.

Penerapan teknologi blockchain di bidang pertanian memiliki berbagai kegunaan yang dapat dibagi menjadi empat kategori utama: Pertanian Cerdas, Rantai Pasokan Makanan, Asuransi Pertanian, dan Transaksi Produk Pertanian.

1. Pertanian Cerdas: Pertanian cerdas menggabungkan berbagai teknologi seperti IoT, sensor, dan pembelajaran mesin untuk meningkatkan efisiensi proses pertanian. Blockchain digunakan untuk mengatasi masalah kesalahan data dan serangan siber dalam pengumpulan informasi pertanian. Hal ini memungkinkan pengiriman data yang aman dan transparan kepada berbagai pemangku kepentingan dalam rantai pasokan pertanian.

2. Rantai Pasokan Makanan: Blockchain membantu mengatasi masalah transparansi, keamanan, kualitas, dan ketertelusuran dalam rantai pasokan makanan yang semakin panjang dan kompleks. Ini memberikan informasi produk yang spesifik dalam blockchain, yang meningkatkan kepercayaan antara produsen dan pelanggan, serta membantu bisnis meningkatkan nilai produk mereka dan daya saing di pasar.

3. Asuransi Pertanian: Perubahan iklim membuat pertanian semakin tidak pasti, dan petani sering mengandalkan asuransi pertanian. Blockchain mendukung asuransi berbasis indeks yang memberikan alternatif yang lebih baik daripada asuransi berbasis ganti rugi. Ini memungkinkan pembayaran berdasarkan indikator yang dapat diukur, seperti data cuaca, meningkatkan keakuratan proses asuransi dan keandalan pembayaran.

4. Transaksi Produk Pertanian: Blockchain mempercepat perolehan dan penjualan produk pertanian di situs e-commerce dengan meningkatkan keamanan data dan efisiensi dalam manajemen rantai pasokan. Dengan sistem otentikasi yang aman dan solusi pembayaran digital, blockchain memungkinkan hubungan yang lebih saling percaya antara pelanggan dan penjual, menguntungkan petani dalam hal penjualan produk pertanian.

Keuntungan teknologi blockchain di pertanian:
1. Transaksi Terbuka dan Tanpa Perantara: Blockchain memungkinkan transaksi peer-to-peer terjadi tanpa perlu perantara seperti bank, mengurangi biaya transaksi.
2. Kepercayaan Berbasis Enkripsi: Menggantikan kepercayaan pada otoritas pusat dengan sistem berbasis enkripsi dan arsitektur peer-to-peer, memulihkan kepercayaan antara produsen dan pelanggan.
3. Pelacakan Transaksi yang Aman: Blockchain menyediakan metode yang dapat dipercaya untuk melacak transaksi tanpa mengungkap identitas individu, mengidentifikasi penipuan dan cacat dengan cepat.
4. Kontrak Pintar Real-Time: Penerapan kontrak pintar memungkinkan identifikasi kesalahan secara real-time, meningkatkan efisiensi.
5. Transparansi Rantai Pasokan: Mengatasi kompleksitas rantai pasokan dengan melacak setiap tahapan produk dari awal hingga akhir, memberikan solusi terhadap kekhawatiran tentang kualitas dan keamanan pangan.
6. Data Terpercaya dan Solusi Asuransi: Mendorong transparansi di antara pihak terlibat, memungkinkan data yang dapat diverifikasi, dan mendukung pembangunan fasilitas berbasis data serta solusi asuransi untuk pertanian cerdas.

Tantangan teknologi blockchain di bidang pertanian:
1. Motivasi Pihak-Pihak Transaksi: Perlu studi lebih lanjut tentang motivasi pihak yang bertransaksi untuk memberikan informasi yang benar ke blockchain, terutama pada pertanian skala kecil. Pertanyaan seputar kontribusi dan manfaat bagi petani perorangan perlu dijawab.
2. Biaya Akses Data: Mengakses data yang diunggah ke blockchain bisa mahal, terutama dalam pengumpulan data seperti DNA hewan ternak. Ini bisa menjadi hambatan untuk adopsi blockchain, dengan biaya rata-rata pengumpulan data lebih rendah di peternakan besar, meningkatkan ketidaksetaraan pendapatan.
3. Integrasi dengan Sistem Lama: Blockchain harus diintegrasikan dengan sistem lama, seperti perencanaan sumber daya perusahaan dan manajemen gudang. Membangun infrastruktur ini memerlukan waktu dan memerlukan middleware dan protokol komunikasi untuk menghubungkan sistem-sistem yang ada.




Referensi :

https://pintu.co.id/academy/post/bagaimana-cara-kerja-blockchain
https://www.cnbcindonesia.com/mymoney/20220217153629-72-316221/mengenal-apa-itu-blockchain-teknologi-yang-mengubah-dunia
https://www.qubisa.com/article/pengertian-blockchain-dan-cara-kerjanya
https://www.knowledgehut.com/blog/blockchain/blockchain-technology-in-agriculture



Nama : Mutiara Khairunnisa Zulkifli
NPM : 2315061060


Postingan populer dari blog ini

RESUME SEMINAR NASIONAL EEA 2023 (PTI)